iThought

BFF

Gara-Gara Duduk Sebangku

“Mel, kita sekelas. Kita duduk sebangku ya.”

Namanya Davinna Anggraini atau biasa dipanggil Vinna. Kami lulusan SD yang sama. Dia menyampaikannya dengan wajah datar tapi ada pemaksaan dalam nada suaranya. Dia mencegat langkah gue menuju papan pengumuman pembagian kelas tahun ajaran 1995/1996 di SMP 27 Duren Sawit.

Seinget gue, saat itu gue sempat termangu. Soale gue sendiri baru berjalan beberapa langkah setelah turun dari mobil bokap persis depan gerbang SMP. Seinget gue, saat itu gue emang mikirin adakah teman cewek SD yang happen to be satu kelas sama gue supaya bisa diajak duduk sebangku. Maklum! Baru jadi murid SMP, murid berseragam putih biru!

Apa itu kemudian “pucuk dicinta ulam pun tiba”? Bukaaan! Ahaha… Dari beberapa anak perempuan seangkatan lulusan SD 02 Duren Sawit dan melanjutkan sekolah di SMP 27, koq ya Davinna Anggraini yg sekelas sama gue? Main ‘maksa’ ngajak sebangku pulak! Hehe…

Menilik jaman SD, gue dan Vinna bukan sahabat. Gak akrab malahan! Gak musuhan juga untungnya. Apalagi gue anak pindahan, baru masuk SD 02 pas kelas 4 CAWU II. Eh dulu itu Catur Wulan ya, catet! Dan Vinna bukan teman SD yang warm-hearted ke anak pindahan. Ihihi…

Namun semesta menjadikan gue & Vinna kudu barengan alhasil gue menerima ‘pinangan’ Vinna untuk duduk sebangku. Karena sebangku, akhirnya jadi akrab trus dekat trus tau-tau berlabelkan sahabat. Benar kata pepatah “Tak kenal maka tak sayang”.

Ada cerita apa aja di tahun pertama persahabatan kami? Aselik ndak inget lengkap. Palingan kenangan karya wisata dari sekolah ke Bosscsha di Lembang, Jabar. Gue jadi mata tambahan buat Vinna diawal dia mengalami rabun jauh alias mata minus alias bacain apa yang Bapak/Ibu guru tulis di papan meskipun kami duduk di bangku depan. Curhat gebetan di mana gue selalu punya nama samaran untuk sejumlah gebetan Vinna sehingga hanya kami berdua yang tau, nyahaha… Karena rumah Vinna lumayan jauh dari sekolah, Mama-nya selalu siap antar jemput dan berjasa anter gue pulang bawa kucing ganteng yang luntang-lantung di depan sekolah yang kemudian gue namakan Bonny II.

VAMI (Vinna-Amel-Mega-Indah)

Gue & Vinna di kelas 1.A. Namanya sekolah negeri, kelas terbagi sampai 7 alias sampai 1.G. Satu kelas bisa berisi 44-46 murid. Wajar dunks kalo gue ndak bisa ingat semua apalagi kalo ndak pernah sekelas sama gue. Udah gitu gue pun lemah mengingat wajah orang, kecuali celeb *weeek*.

Tapi gak tau gimana Vinna bisa akrab juga sama Megasari alias Mega dari kelas 1.D *posesip* *eh*. Kalo ndak salah gara-gara #mufc. Yep! Kadang kalo lagi bertiga gitu, Vinna Mega dengan kejemnya nyuekin gue dengan seseruan hasil pertandingan Liga Inggris di akhir pekan, nyahaha…

“Lo suka bola?” gue bertanya sama Vinna dalam kelas.
“Iya. Lo juga ya, lo harus suka yang namanya Manchester United” jawabnya. Lagi-lagi pemaksaan.
“Koq bisa suka bola?” sahut gue soalnya kan saat itu gak lazim ABG cewek suka nonton pertandingan sepak bola.
“Iya. Soalnya Mark Owen suka #mufc. Dan Take That pun dari kota Manchester” Vinna menjelaskan. Tak terbantahkan dech.

Iya, jadi Vinna ini penggemar fanatik boyband asal Inggris, Take That. Dia pun menggilai Mark Owen, salah satu member Take That. Gue siy biasa aja, baik ke Take That apalagi Mark Owen. Semacam harom hukumnya ikut nge-fans sama Mark Owen karena udah ‘dimiliki’ oleh Vinna *terkekeh*. Lagian gue sendiri sibuk menggilai Mariah Carey. Jadi kami pada selera musik masing-masing.

Tapi tidak pada urusan sepak bola ini, sodara-sodara! Manut lah gue menyukai #mufc atas nama persahabatan *eaaa*. Dan saat kelas 2, gue & Vinna masih jodoh sekelas di 2.B. Ternyata Mega pun kebagian kelas 2.B. Dan juga member terakhir yang kemudian melengkapi kami menjadi kuartet, Indah Saraswati alias Indah.

Padahal Indah ini lulusan SD 02 juga kayak gue & Vinna juga. Ho-oh, ndak ada satu pun dari kami bertiga yang temenan ke satu sama lain saat itu, bhahahak… Dan Indah ini juga korban pemaksaan Vinna agar mendukung #mufc!

Karena berempat ini makin akrab, makin lengket, makin ngawur *loh* jadilah sibuk cari nama untuk kuartet kami. Dasar ABG yeee… Entah siapa yang mencetuskan, terpilihlah nama VAMI yang merupakan inisial nama panggilan kami masing-masing. Vinna-Amel-Mega-Indah. How sweet!

VAMI tentunya punya satu keseragaman. Apalagi kalo bukan MANCHESTER UNITED FOOTBALL CLUB. Kami pernah lho berempat tanpa didampingi orang tua atau orang dewasa pergi ke ITC Roxy Mas di dekat Grogol, Jakbar naik patas AC dari Duren Sawit, Jaktim. Semata demi ke toko yang jual merchandise sepak bola. Tokonya beberapa kali dijadiin lokasi shooting soccer news keluaran RCTI. Tayang setiap Sabtu siang. Lupa nama acaranya. Makanya kami tau lokasi toko itu. (Oiya, paragraf ini harap dibaca dengan memiliki pengetahuan bahwa pernah ada masa di mana ABG tidak keluyuran begitu saja di pusat perbelanjaan, terutama di malam hari. Nah gue kebetulan tumbuh dalam sikon seperti itu.)

Siapa idola VAMI di #mufc? Bisa dikatakan kami memuja keseluruhan team. Kami sayang sang pelatih Kakek (Sir) Alex Ferguson. Kami cinta sang kapten Eric Cantona. Kami heboh bila ada liputan salah satu pemain #mufc. Ya, kami ternyata tetap punya idola tersendiri. Hehehe…

Vinna dengan Peter Schmeichel. #mufc legendary goalkeeper. Gue dengan si younger brother dari Neville brothers yaitu Phil Neville. Mega dengan si flamboyan dan idola semua perempuan, David Beckham. Dan Indah dengan anak dari legenda sepak bola Johan Cruyff, Jordy Cruyff. And we were crazy about our idol. You know, that teenager craziness. Berhubung jaman itu internet pun ndak semudah belakangan ini, ya gue atau anggota VAMI lainnya mengalami banggets masa di mana beli majalah atau tabloid atau koran cuma karena ada liputan sang idola. Woaaah!

Owiyaaa… Have I mentioned that VAMI used to hang out at Vinna’s house after school? Padahal rumah Vinna itu yang terjauh dari sekolah dan yang terdekat dengan sekolah adlh rumahnya Indah, hahaha… Kala itu jam 1an kami sudah bubaran sekolah. Dan biasanya ke rumah Vinna dadakan, jarang direncanakan. Kami bisa sampai sore di rumahnya. Trus pulangnya dianterin sama Mama Vinna *senengnya koq ya ngrepotin orang tua* *eh*. Pastinya bukan buat kerja kelompok, preeet! Gue sebenernya agak lupa apa aja aktivitas yang biasa kami lakukan pas tandang itu tapi salah satu yang gue inget adlh nonton konser Take That via laser disc player. Era laser disc!

Apa kami pernah berantem? Tidak! Tapi yang namanya 4 orang yang berbeda, gak semua hal lah kami sepaham dan sepakat. Tapi kami gak pernah mempertengkarkan perbedaan itu. Santai aja lah.

Naik ke kelas 3, Mega terpisah dari kami alias gak sekelas lagi. Tapi kami tetap temenan. Gue & Vinna juga gak duduk sebangku lagi. Kali ini dipisahkan oleh Ibu Kelas. Nampaknya supaya kami ‘berkembang’, ihihi… Kelas 3 ini buat gue pribadi sungguh berat. Gue sadar sepenuhnya kemampuan penglihatan gue menurun alias terkena rabun jauh (miopi) tapiii gue siteng kalo pake kacamata. Gue pun menuai nilai yang menurun, hiks… Price to pay.

Mei 1998. Sepulang EBTANAS, selagi menunggu angkutan umum buat main ke rumah Vinna, nyokap Indah nyamperin kami. Gue masih inget banget apa yang Beliau sampaikan. “Semuanya kembali ke rumah Indah dulu. Situasi Jakarta memanas. Tadi Mama Vinna dan Mama Amel telpon minta Vinna dan Amel nunggu di rumah Indah, gak boleh kemana-mana, nanti pada dijemput.”. Ya, itu tanggal 14-Mei-98. Rasanya kami linglung dengar kata “kerusuhan”. Rasanya tidak ada satu pun dari kami yang menduga bahwa riot semacam itu terjadi di Jakarta. Rasanya mencekam!!!

Pengumuman kelulusan jadi ajang penuh derai air mata dech yaaa… VAMI mencar! Gue dan Indah memang melanjutkan di SMA yang sama, tapi Vinna dan Mega pada SMA pilihan masing-masing. Semua rasa hati campur aduk hari itu. Sedih karena VAMI pisah sekolah, haru karena lulus SMP, antusias juga cemas akan masa depan. Such a huge emotion blend for teenagers like us.

Terima kasih untuk persahabatannya, Vinna Mega Indah. Lo bertiga membuat masa SMP mudah untuk dilalui. Indah untuk dialami.

Grown Woman

Gue bukan cuma satu SMA sama Saras alias Indah (nama panggilannya berubah gara-gara sinetron Saras 008), tapi kami pun kuliah di Universitas dan Fakultas yang sama! Tapi sepanjang SMA, gue dan Saras ndak pernah sekelas. Kami juga ndak senempel dulu. Ndak musuhan koq, alhamdulillaah, hanya aja gue merasa kami berhak untuk akrab dengan teman baru.

Tapi iya, intensitas VAMI pun ikutan menurun. Kami gak rutin berkumpul. Kami pun jarang kontakan. Well, gue dan Vinna siy masih lumayan sering kontakan. Bila gue dan Saras kuliah di FH Usakti, Vinna malah kuliah di Aksek Tarakanita – bukannya di Fak. Psikologi meskipun cita-citanya adlh menjadi Psikolog, dan Mega kuliah di Univ. Gunadarma. Namun pernah ada masa di mana we were totally lost communication to each other. The part of growing up that I hate.

Vinna made the first contact to me. Waktu itu kami udah pada lulus dan udah mulai kerja. Was a bit surprised and excited for sure when your long lost #BFF back in touch wih you again, right?! Rasanya telepon itulah yang membuat gue dan Vinna lengket lagi. Maha Besar Allah.

Gue loncat dari tempat tidur seusai baca SMS Vinna pada suatu pagi yang mengabarkan bokapnya meninggal. Gue langsung terbirit-birit keluar kamar tidur gue dan turun ke bawah – ke ruang tamu – buat ngasih tau bokap nyokap berita duka itu. Gue, tentunya, tidak lupa meneruskan kabar duka itu ke Saras dan Mega. Dan kami, setelah sekian lama absen tandang ke rumah Vinna, siang itu datang ke sana untuk bertakziyah. Kami juga mendampingi Vinna di pemakaman ayahandanya. Inna lillaahi wa inna ilaihi roji’un.

“Gimana ceritanya lo bisa suka candi?” gue melontarkan pertanyaan itu seusai Vinna cerita tentang keterlibatannya dalam Bol Brutu – sebuah komunitas pecinta candi, atau pemburu batu kalo kata para anggotanya. Iya, itu adalah salah satu fase yang tidak gue ketahui tentang Vinna. Hari itu kami janjian ketemu di Dunkin’ Donuts – TIS. Hari itu kami ngobrol panjang lebar. Bertukar cerita. Saling memberi tau apa yang telah dilalui dan tidak ketahui. Dan kami sepakat bahwa merencanakan masa depan memang mudah, adaptasi terhadap perubahan rencana yang susah. Hehe…

 

23-Feb kemarin gue dan Indah ngriung di kamar Vinna lagi. Sayang di hari itu Mega batal hadir karena diare. We were celebrating the birth of Vinna’s first kid. My BFF has become a Mom. Maha Besar Allah. Cukup aneh lihat Vinna gendong bayi, ahaha… Geees, we are all grown woman now.

 

 

[amelkucing]
#bethechange

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s